Kamis, 25 November 2010

SS IV M6 2010

Oktober - Desember 2010

Pelajaran 6

Diterjemahkan Oleh : Linda BaStian

 

:: Uria: Iman Orang Asing ::

 

"Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan
dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan 6:05) 

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

         

Sabbath

30 Oktober

2 Samuel 11

Pendahuluan

Apakah Lebih Mudah untuk Tunduk atau Menolak?

 

Sudah lama perempuan muda itu tidak datang ke gereja sejak orang-orang tahu apa yang terjadi kepadanya. Dia tahu semua peraturan dan norma-norma. Dia tumbuh dalam keluarga yang baik-baik dan hanya bisa membayangkan berdiri dihadapan majelis gereja: "Peraturan Gereja tentang standar moralitas sangatlah jelas. Standar tersebut harus dipertahankan. Apa yang telah dilakukan perempuan ini tidak dapat diterima. Disiplin harus diterapkan.”

Dia tidak sanggup memandang wajah orang-orang yang penuh dengan tuduhan, gunjingan, atau sindiran. Dia tidak butuh mereka untuk mengatakan kepadanya tentang yang benar atau yang salah. Tidakkah mereka mengerti bahwa dia sudah tahu semuanya? Dia menunduk dan memeluk bayinya yang baru lahir. Bayi ini tidak bersalah. Dia mendengar kegaduhan dan mengangkat wajahnya untuk melihat para penatua gereja yang datang ke arahnya. Hatinya hancur. Tidak dapatkah mereka meninggalkannya sendirian? Sebelum mulutnya terbuka, dia telah diserbu dengan bunga, hadiah, serta berbagai dukungan dan harapan.

 

Hubungan gelap yang dia nikmati pada malam itu telah mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan

 

Kita sering dihadapkan pada situasi yang sulit, dimana kita harus memilih salah satu di antara beberapa alternatif, yang satupun tidak ada yang positif. Lebih sering, situasi ini diciptakan oleh kita sendiri.

Raja Daud mendapatkan dirinya dalam situasi seperti itu. Saat itu Israel sedang berperang. Tentara Israel telah menghancurkan bani Amon, dan mereka mengepung Rabba.

Tetapi, Daud tidak bersama tentaranya. Dia ada di istana, dan dari atas sotoh istananya itu dia mengamati seorang wanita cantik yang sedang mandi. Dia menginginkan wanita itu. Kemudian dia mengetahui bahwa wanita itu adalah istri dari salah satu prajurit terbaiknya, Uria orang Het. Dalam sekejap Daud menghempaskan kenyataan itu. Hubungan gelap yang dia nikmati pada malam itu telah mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan.

Sekarang Daud menghadapi dilema. Hukum menuntut hukuman mati bagi keduanya (Imamat 20:10). Lalu Daud mulai dengan siasatnya:

Siasat Pertama: Dia mengirim Uria ke medan perang dan meminta laporan darinya. Lalu ia memerintahkan Uria pulang ke rumahnya. Uria tidak pulang, tapi tidur di gerbang istana Daud.

Siasat Kedua: Daud membuat Uria mabuk dan menyuruhnya pulang. Uria tidak pulang, tapi tidur di gerbang istana Daud.

Siasat Ketiga: Daud menulis sebuah perintah untuk membunuh Uria dan mengutus Uria kembali ke medan pertempuran. Uria terbunuh.

Bertolak belakang dengan Daud, Uria memiliki pendirian sebagai seorang pria yang terhormat dan berkarakter, seorang pria yang memiliki pertimbangan yang jelas tentang yang benar dan yang salah, dan siap untuk melakukan apa yang benar tanpa menghiraukan kesusahan atau pun bujukan. Dan pelajaran pekan ini akan menjelaskan apa artinya menghidupkan iman kita.

 

Lars Eric Andersson, Lindesberg, Sweden


Minggu

31 OKTOBER

Bukti

Di Setiap Bangsa

Kisah Para Rasul 10:34, 35

 

Kornelius adalah seorang tentara dalam pasukan Romawi. Dia bukan orang Yahudi. Tetapi, pada waktu mengunjungi rumahnya, Petrus menyampaikan pernyataan mendalam tentang sikap Tuhan kepada semua orang: ”Sesungguhnya aku mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran, berkenan kepada-Nya.” (NKJV).

Uria, orang Het adalah contoh non-Yahudi lain yang diterima Tuhan. Hal ini mengajarkan kita, bahwa pengaruh dan pekerjaan Roh Kudus pada hati dan pikiran manusia tidak terbatas pada bangsa tertentu. Allah tertarik dan berusaha untuk menyelamatkan orang-orang dari semua bangsa dan semua lapisan masyarakat, bahkan prajurit dalam angkatan bersenjata.

 

Langkah menuju kejatuhan itu sangat singkat dan cepat

 

Orang Het adalah bangsa yang berlokasi di Asia Kecil sekarang. Israel punya banyak hubungan erat dengan mereka – ada yang baik, ada pula yang merusak. Abraham membeli sebidang tanah di Machpelah dari Efron, orang Het, di tempat itulah Sarah istrinya dimakamkan (Kej. 23:10-20). Ini adalah poin yang menarik karena Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa kepada keturunannya akan diberikan negeri orang Het. Esau menimbulkan kepedihan hati Ishak ketika ia menikah dengan dua perempuan Het (Kej 26:34, 35).

Allah memerintahkan Israel untuk memusnahkan orang Het dan bangsa-bangsa kafir lainnya (Ul. 20:17). Dia berjanji untuk mengusir mereka keluar dengan cara dasyat. Sayangnya, Israel tidak mengikuti petunjuk-Nya. Bahkan, mereka melakukan sebaliknya. Mereka bercampur dengan orang Het dan menyembah dewa-dewa mereka (Hak. 3:5, 6). Bahkan Salomo menikahi perempuan Het (1 Raja-raja 11:1).

Integritas Uria dan kemerosotan moral Daud meninggalkan sebuah pelajaran yang penting bagi kita. Kesetiaan Uria dan integritas moralnya mengingatkan kita bahwa bukan karena kepintaran, kemampuan, atau posisi, kita berkenan kepada Allah. Seringkali seorang Kristen memiliki salah satu atau ketiganya, tetapi tidak menunjukkan perilaku sebagai seorang Kristen. Seringkali orang-orang yang bukan Kristen yang memanifestasikan kebenaran,  dan bukan orang-orang yang mengaku percaya.

Langkah menuju kejatuhan itu sangat singkat dan cepat. Keselamatan kita melalui persatuan kita dengan Yesus. Tanpa Dia, kita gagal (Yohanes 15:5).

 

REAKSI

1.            Kesetiaan dan integritas tidak selalu diakui atau dihargai. Bagaimana kurangnya pengakuan ini menyebabkan kita untuk mengabaikan nilai mereka?

2.            Mana yang mungkin lebih berguna dalam melayani kehendak Allah: terpisah dari dunia atau terlibat dengan dunia? Jelaskan jawaban Anda.

3.            Kapan pemisahan dari dunia bisa direkomendasikan? Bagaimana seorang Kristen terlibat dalam dunia tanpa terjerumus ke berdosa aspek tertentu dari dunia?

 

Elizabeth Lawrence, Watford, England


Senin

1 Nopember

2 Samuel 11; Amsal 23:6-7; Yeremia 5:1; Yohanes 15:5; Roma 15:4; Galatia 6:7; Efesus 6:10,11; Filipi 4:8

Logos

Keberhasilan dan Tragedi

 

Titik Terlemah (Efesus 6:10, 11)

Dalam nasehatnya kepada orang Kristen tentang bagaimana setan bekerja untuk menjatuhkan manusia, Paulus mencatat bahwa ada sebuah "metode" untuk mengalahkan rencana jahat setan (Efesus 6:10, 11, NIV). Kisah Daud, Batsyeba, dan Uria orang Het menggambarkan kebenaran ini.  Setan menyerang kita pada titik terlemah kita, karena tidak masuk akal bila dia menggoda kita pada titik lain yang tidak mungkin kita respon. Kisah Daud dan Uria mengilustrasikan hal ini dengan merinci konsekuensi yang mengerikan dari salah satu momen kebodohan.

 

Pencegahan lebih baik daripada kesedihan dan rasa bersalah

 

 

Kekuatan Nafsu (2 Samuel 11; 1 Raja-raja 15:5)

Kesetiaan Daud kepada kehendak Allah dan satu cela karakternya disorot dalam 1 Raja-raja 15:5. Pengecualiannya adalah cerita yang penuh drama, gairah, nafsu, bencana, dan kekejaman. Gantinya memimpin pasukan dalam peperangan, Daud tinggal di istananya di Yerusalem. Suatu sore dari istana, ia melihat seorang wanita cantik yang sedang mandi. Kecantikannya membangkitkan hasratnya. Mengetahui siapa dia, lalu mendatangkan dia ke istana di mana ia berzinah dengannya.

Suami Batsyeba dikenal dengan baik oleh Daud. Bahkan, Uria adalah salah satu dari pengawal yang paling Daud percaya. Daud sadar bahwa Uria sedang pergi memimpin pasukan dalam pertempuran. Semua itu membuat perilaku Daud bahkan jauh lebih hina.

 

Siasat Dosa (Gal. 6:7)

Mengetahui bahwa Batsyeba hamil, Daud berusaha untuk menutupi dosanya. Dia memanggil Uria ke Yerusalem, rencananya adalah bahwa Uria akan melakukan hubungan seksual dengan istrinya, sehingga ketika bayinya lahir, Uria akan diakui sebagai ayah bayi tersebut. Tindakan Daud ini cemerlang. Sepertinya ia menganggap Uria penuh nafsu yang sama seperti halnya dirinya. Sudah umum bahwa kita sering menyalahkan orang lain karena keegoisan kita. Namun, Daud salah menilai Uria. Tipu muslihat Daud terbongkar oleh loyalitas dan integritas Uria.

Ketika Uria menolak untuk pergi kepada istrinya, Daud mencoba trik lain. Dia membuat Uria mabuk. Tetapi itu pun tidak berhasil, karena Uria masih tetap jauh dari Batsyeba. Daud berikutnya memutuskan bahwa Uria harus mati. Jadi dia menulis surat kepada Yoab, jenderal tentara Israel, menginstruksikan kepadanya untuk menempatkan Uria di garis depan pertempuran di mana ia kemungkinan besar akan terbunuh. Dan itulah yang terjadi. Itulah kebodohan manusia dalam dosa mereka. Kita lupa bahwa tidak ada yang tersembunyi dari Allah.

Integritas Uria dan perilaku Daud yang tidak berperasaan memerlukan keadilan dan hukuman. Keadilan dan hukuman datang ketika nabi Nathan menentang kejahatan Daud. Daud melewati hukuman mati atas dirinya, oleh karena rahmat Allah. Apa yang menonjol dalam cerita ini adalah karakter Uria. Ia benar-benar adalah pria yang berkenan kepada Allah.

 

Upah dosa (Rm. 6:23)

Perzinahan Daud dengan Batsyeba membawa dia ke dalam penderitaan yang amat sangat dan menyakitkan, menyebabkan ia kehilangan empat putranya, tidak berhak untuk membangun Bait Allah, dan meninggalkan warisan yang mengerikan kepada Salomo dan bangsa Israel. Mencegah adalah satu cara yang terbaik untuk menghindari kesedihan dan rasa bersalah, karena kesedihan dan rasa bersalah tidak bisa memutar balik waktu atau membatalkan konsekuensi dari dosa. Untungnya, bagaimanapun, ada pengampunan Allah. Dalam hal ini ada harapan. Kesalahan Daud mejadi peringatan bagi kita dan integritas Uria menjadi inspirasi kita.

 

Upah kebajikan (Rm. 15:04)

Cerita tentang Uria memiliki pelajaran abadi dan tepat waktu untuk perempuan dan laki-laki dalam setiap zaman. Ada loyalitas dan pengendalian diri pada Uria, sedangkan nafsu Daud yang tidak terkontrol dan kepasrahan Batsyeba adalah dua tindakan paling memalukan dalam Alkitab.

Di dunia kita yang kontemporer dan tidak bermoral, integritas Uria orang Het itu mendorong kita untuk memiliki moral yang murni. SepertiYusuf, Uria menunjukkan bahwa kita dapat memilih untuk tidak terjerumus ke dalam nafsu dan birahi. Tidak ada yang tidak terelakkan dari godaan seksual.

Ketika kita mempelajari kehidupan Daud, kita melihat orang besar yang mencapai hal-hal yang hebat dengan berkat Tuhan. Dia tak tertandingi dalam banyak hal, dan ia disebut "seorang yang berkenan di hati Allah" (Kisah 13:22, NIV). Namun, ada hal yang kontras antara Uria orang Het itu yang memiliki integritas dengan Daud yang mempunyai noda dalam kehidupannya, Uria belum menerima upahnya. Kita tidak bisa meragukan dia tetapi itulah dia, orang asing di Israel, akan disebut pahlawan di antara pahlawan-pahlawan Allah ketika Kristus datang untuk menyatakan milikNya.

Biografi singkat yang diberikan Alkitab tentang Uria mendorong kita untuk menjalani kehidupan yang memuliakan Allah; kehidupan yang tidak didorong oleh nafsu, keserakahan akan kekuasaan, kekayaan, atau hak istimewa, tetapi hidup yang memiliki kerinduan untuk melayani, dan untuk setia kepada Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita. Ada Sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang penyair: "Siapakah prajurit yang berbahagia? Siapakah dia? / Dimana setiap orang dalam barisan ingin menjadi seperti dia?"1 Sebuah petunjuk untuk menjawabnya ditemukan dalam penelitian ini: "Tidak ada batasan untuk menjadi orang yang berguna, selain menempatkan diri, memberi ruang untuk bekerjanya Roh Kudus di dalam hati kita dan menghidupkan kehidupan yang sepenuhnya berkomitmen kepada Tuhan.”2

 

REAKSI

1.      Kita dibentuk oleh pikiran kita (Ams. 23:07, NKJV). Bagaimanakah hal ini bisa menjelaskan tindakan Uria dan Daud?

2.      Bagaimana kita bisa menjelaskan sifat alamiah dari dosa Daud?

3.      Dengan cara bagaimana pandangan kita terhadap hidup yang kekal mempengaruhi perilaku kita?

4.      Bisakah kita benar-benar percaya bahwa berbuat kebaikan adalah upah dari berbuat kebaikan itu sendiri? Jelaskan jawaban Anda.

 

1. Selected Poetry of William Wordsworth (New York: The Modern Library, 2002), p. 510.

2. The Ministry of Healing, p. 159.

 

Patrick Boyle, Watford, Hertsfordshire, England


Selasa

2 Nopember

Kesaksian

Sebuah Perubahan Besar

Bil. 32:23

 

Sampai di sini pemeliharaan Allah telah melindungi Daud terhadap semua rencana musuh-musuhnya, dan telah secara langsung menahan serangan Saul. Tetapi pelanggaran Daud telah mengubah hubungan-Nya dengan Allah. Tidak ada kebijakan sanksi untuk dosa. Allah tidak dapat menjalankan kekuasaan-Nya untuk melindungi Daud dari hasil dosanya sebagai mana Ia telah melindungi Daud dari musuhnya, Saul.

Ada perubahan besar dalam diri Daud sendiri. Secara spiritual dia telah hancur setelah menyadari akan dosanya, dan dalam menyadari akibatnya yang tak terkira. Dia merasa dipandang rendah oleh rakyatnya, wibawanyapun berkurang. Sampai saat itu kemakmurannya selalu dikaitkan dengan kesungguhan hatinya dalam mentaati perintah-perintah Tuhan. Tetapi sekarang rakyatnya mengetahui dosanya, hal itu akan menyebabkan rakyatnya lebih bebas berbuat dosa. Otoritasnya dalam rumah tangganya sendiri, dalam hal respek dan ketaatan dari putra-putranya melemah.

 

“Allah mau agar sejarah kejatuhan Daud untuk menjadi peringatan...”

 

Perasaan bersalah membuatnya tetap diam pada saat ia seharusnya mengutuk dosa; itu membuat lengannya lemah untuk melaksanakan keadilan di rumahnya. Contoh kejahatan yang dilakukannya sangat berpengaruh terhadap anak-anaknya, dan Tuhan tidak akan menjadi penengah untuk mencegah akibatnya. Dia akan mengizinkan sesuatu terjadi untuk menjadi pelajaran alamiah bagi mereka, dan dengan cara demikian Daud dihukum sangat berat….

“Mereka yang dengan menunjuk contoh dari Daud mencoba untuk mengurangi rasa bersalah dari dosa-dosa mereka sendiri, mereka harus belajar dari catatan Alkitab bahwa melakukan pelanggaran moral itu membuat susah. Meskipun seperti Daud mereka berbalik dari kejahatan mereka, tetapi akibat dosanya, bahkan dalam kehidupan ini, akan ditemukan kepahitan dan kesusahan untuk menanggungnya.”

Allah mau agar sejarah kejatuhan Daud untuk menjadi peringatan bahkan bagi orang-orang yang sangat diberkatiNya dan berkenan di hatiNya untuk tidak merasa kuat dan lalai berjaga-jaga dan berdoa. Dan melalui itu telah terbukti kepada mereka yang dengan rendah hati berusaha untuk mempelajari pelajaran yang dirancang oleh Allah untuk mengajar. Dari generasi ke generasi ribuan generasi telah sedemikian dituntun untuk menyadari bahayanya kuasa penggodaan. Kejatuhan Daud, orang yang sangat dihormati oleh Tuhan, telah membuat mereka tidak percaya diri. Mereka merasa bahwa hanya Tuhan saja yang sanggup menjaga mereka dengan kuasa-Nya melalui iman. Mengetahui bahwa di dalam Tuhan ada kekuatan dan keselamatan, mereka takut untuk melangkah ke daerah Setan. *

 

REAKSI

Apakah satu-satunya yang dapat menjaga kita dari dosa dan konsekuensinya?
Bagaimana hidup Anda terpengaruh, ketika seperti Daud, Anda sengaja melakukan dosa?

 

*Patriarchs and Prophets (Sejarah Para Nabi), hal. 723, 724.

 

Amy Browne, Kent, England.


Rabu

3 Nopember

Ibr. 2:1-4

Bagaimana

Mengalir Dengan Peristiwa

 

Keberhasilan dan kegagalan dalam hidup tidak terjadi secara kebetulan. "Seperti burung pipit melayang, seperti burung layang-layang terbang, demikianlah kutuk tanpa alasan tidak akan turun" (Amsal 26:2, NKJV). Tidak ada yang hanyut terbawa arus menuju surga; tetapi adalah sangat mudah dan fatal hanyut terbawa arus duniawi. Salah satu pengamatan yang paling bijaksana dalam Alkitab yang menunjuk pada alasan dalam mengabaikan kehancuran rohani (Ibr. 2:3). Yesus jarang mengutarakan orang sebagai orang yang jahat. Dia, bagaimanapun, mengkategorikan mereka sebagai gadis yang bodoh – gadis yang bodoh yang tidak bersiap-siap (Mat 25:1-13); si pembangun yang bodoh yang mebangun di atas pasir (Matius 7:26, 27); dan Orang-orang Galatia yang bodoh (Gal 3:1).

Apakah benar kalau mengatakan bahwa sebagian besar, jika tidak semua dari kita, pada satu waktu atau lainnya telah mengalami kerugian, sakit hati, sakit, dan bahkan bencana, karena kelalaian dan kecerobohan kita sendiri? Sesungguhnya ini adalah akibat kegagalan moral. Sebagaimana yang terjadi pada Daud, saat-saat kecerobohan dapat mengakibatkan penyesalan seumur hidup. Berikut adalah beberapa cara yang dapat mencegah saat-saat seperti itu:

 

kecerobohan dapat mengakibatkan penyesalan seumur hidup

 

Belajar Firman Tuhan. Tidak cukup hanya membaca Alkitab saja, kita harus mempraktekkannya juga. Kita harus mempelajari Alkitab dan menerapkannya di dalam kehidupan kita.

Berdoa. Doa kita harus lebih dari hanya sekedar permohonan dan ucapan terima kasih yang dangkal dan terburu-buru. Sewaktu kita berdoa, kita harus mempertimbangkan dengan hati-hati kebutuhan kita dan bagaimana Allah telah memberkati kita. Kita juga harus dengan sungguh-sungguh membiarkan Allah berbicara kepada kita. Seperti para murid Yesus meminta Yesus untuk mengajar mereka cara berdoa (Lukas 11:1), kita juga berkewajiban untuk belajar bagaimana untuk berdoa. Tidak ada berkat lain yang lebih besar dalam hidup ini selain memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Sebagai mana dengan teman-teman kita, demikian juga dengan Tuhan Kita – Persahabatan dengan Tuhan adalah sesuatu yang harus kita bangun dengan mendekatkan diri kita kepada-Nya melalui doa.

Merindukan keselamatan. Keselamatan tidak terjadi secara kebetulan. Allah tidak memaksa kita untuk menerima rahmat-Nya. Kita diselamatkan, sebagian, karena kita ingin diselamatkan. Kita merindukan keselamatan, mendapatkan, kemudian mempertahankannya, karena kita membutuhkannya. Ini adalah masalah yang paling serius dari semua isu kehidupan. Mengerjakan keselamatan kita (Fil 2:12) membutuhkan perhatian yang serius setiap hari sepanjang hidup kita.       

Mudah sekali bagi seseorang untuk memiliki pandangan yang salah tetang keselamatan, memandang bahwa keselamatan itu hanya sebagai usaha manusia belaka, memandang keselamatan itu sebagai sesuatu yang harus ditempuh tidak dinikmati.

Ganjaran dari sebuah persekutuan dengan Tuhan setiap hari tak ada tandingannya. Persekutuan dengan Dia memberi kita hidup dan meningkatkan kualitas hidup kita.

 

REAKSI

1.       Bagaimana kegiatan-kegiatan seperti menonton televisi, bermain komputer atau chatting yang dilakukan secara rutin bisa merugikan pengalaman hidup seorang Kristen?

 

Michele Vitry, Watford, England


Kamis

4 Nopember

 

Pendapat

Etika Situasional

Matt. 5:21-28

 

Ketika Daud mengirimkan Uria ke garis depan medan perang, ia melanggar perintah keenam yaitu "Jangan membunuh". Ini adalah kasus yang terbuka dan tersembunyi. Namun, bagaimana kalau aku membunuh karakter temanku dengan sindiran dan gosip? Aku tidak membunuh siapa pun secara fisik. Aku tidak melanggar kesembilan Hukum Tuhan lainnya, karena semua yang kukatakan mungkin benar. Tetapi, sama saja Aku telah membunuh temanku.

Sekelompok pencuri kendaraan yang masih muda, mencuri kendaraan dan mengendarainya sampai bensinnya habis. Selama menggunakan mobil curian, mereka merusak mobil tersebut dan properti lainnya. Mereka bersalah karena mencuri. Namun, bagaimana jika Anda tinggal di medan perang dan keluarga Anda kelaparan? Dimana satu-satunya harapan hidup adalah dengan mencuri makanan.  Apakah ini benar-benar melanggar perintah “Jangan Mencuri?”  Apakah situasi dapat mengubah prinsip?

 

Pembentukan Karakter adalah pekerjaan seumur hidup

 

Anda sering bekerja lembur, namun Anda tidak mendapat bayaran untuk lembur tersebut. Anda terlibat dalam sebuah proyek misi di gereja dan mem-foto kopi bahan-bahan yang Anda butuhkan untuk itu di kantor tanpa membayar, toh majikan Anda mempunyai hutang terhadap jam kerja ekstra anda. Apakah itu dianggap sebagai mencuri? Atau dianggap lunas?

Keabsolutan Sepuluh Perintah Allah yang tidak menyenangkan bagi masyarakat paska moderen, yang memandang dunia dari perspektif, individualistis pragmatis. Masyarakat ingin kita percaya bahwa tidak ada yang absolut. Jika Uria hidup sesuai dengan apa yang dirasa enak; dari pada berpegang teguh pada prinsip, lebih baik dia pulang ke Batsyeba dan segalanya akan terlihat "baik-baik saja" bagi Daud. Tapi dia tidak pulang. Dan sebagai akibatnya, ia meninggal. Integritas Uria berlawanan dengan kelemahan Daud.

Ketika Yesus berkhotbah di atas bukit, Ia berkhotbah tetang perintah jangan membunuh, Dia memberi arti yang luas tentang membunuh termasuk juga kemarahan (Mat 5:21-26). kata marah, percekcokan , dendam, atau permusuhan tidak punya tempat dalam kehidupan Kristen. Menimbang pedoman Yesus tetang perzinahan, Daud sudah melanggar batas ketika ia hanya melihat Batsyeba dengan nafsu (Mat 5:27-28).

Karakter yang suci tidak muncul atau hilang secara tiba-tiba. Itu adalah suatu proses dan pembentukan melalui setiap respon yang kita ambil dalam menghadapi situasi. Pembentukan Karakter adalah pekerjaan seumur hidup.

 

REASI

Integritas Uria dan kesetiaannya adalah contoh yang jelas bagi kita. Bagaimana kita bisa memiliki integritas yang sama dengannya hari ini?

             

Audrey Andersson, Lindesberg, Sweden


Jum’at

5 Nopember

Eksplorasi

Daud dan Uria—Sebuat Perbandingan yang Menyedihkan

2 Samuel 11

 

 

SIMPULKAN

Pasal 11 dalam 2 Samuel adalah kisah yang menyayat hati. Ini adalah studi yang berlawanan. Seiring dengan rasa tanggung jawab Uria terhadap tugasnya, sangat kontras dengan Daud yang melalaikan tugasnya, kita berfokus pada Misi Uria dan kebutaan Daud terhadap misi. Uria menonjol dalam catatan sebagai pahlawan, namun Daud menjadi penjahat terburuk. Bagaimana kita menuduh lanjutan dari perbuatan Daud yang keji itu? Apa yang akan kita simpulkan jika kita hanya memiliki informasi tetang bab ini saja tetang Daud? Ketika kita mempertimbangkan banyak kontras antara Uria dan Daud, apa pelajaran tentang godaan, integritas, dan pengampunan yang bisa kita pelajari?

 

PERTIMBANGKAN

·        Cari kalimat “sexual scandal and politicians” atau “skandal seksual dan politisi” di internet. Pilih satu atau dua cerita terkini dan membandingkan atau menyamakan dengan skandal Daud dan peristiwa yang terjadi pada Uria.

·        Carilah di majalah, yang mungkin Anda bisa menemukan seseorang yang mirip seperti Uria. Jika tidak ada hambatan, cobalah untuk menggambarnya menurut anda tampak seperti bagaimanakah Uria itu?

·        Cari di internet, lagu Watson Wayne "It's a Fine Line" Lagu ini berbicara tentang garis yang halus antara yang baik dan yang jahat yang ada dalam banyak pilihan hidup. Dengarkan lagu tersebut, dan tuliskan sebanyak mungkin situasi garis yang halus yang dapat Anda temukan di dalamnya.

·        Refleksikan peristiwa dalam hidup Anda ketika, seperti Daud, Anda mencoba untuk menutupi sesuatu yang Anda lakukan. Apakah itu melibatkan korban tak bersalah?

·        Bayangkan apa yang akan terjadi kepada Daud dan Uria bila bertemu di surga. Tuliskan dengan 100 kata yang Anda pikirkan kemungkinan mereka akan mengatakan apa terhadap satu sama lain.

·        Pikirkan tentang orang-orang dalam berita yang berakting seperti Daud dalam 2 Samuel 11. Tapi bagaimana dengan Uria? Kemungkinan besar, tidak ada yang akan memperingati kebajikan dan integritasnya sampai nanti di surga. Dapatkah Anda menemukan Uria masa kini dan memikirkan cara untuk memperingatinya?

 

HUBUNGKAN

Untuk mempelajari lebih jauh tentang kehidupan Daud, bacalah 1 Samuel 16 (Daud menjadi raja); 1 Samuel 17 (Daut dan Goliat); 1 Samuel 20 (Daud dan Yonatan); 1 Samuel 25 (Daud dan Abigail); Daud dan nabi Natan (2 Samuel 12). Juga baca Para Nabi dan Raja, pasal 71.

Untuk membaca lebih jauh tentang Daud dan Uria, bukalah website brikut: http://bible.org/seriespage/Daud-and-Uria-2-samuel-115-27.

 

Victor Brown, Dayton, Ohio, U.S.A.

 


Renungan :

 

HATI YANG TAK PERNAH MENYIMPANG

 

Hai anakku, dengarkanlah, dan jadilah bijak, tujukanlah hatimu ke jalan yang benar. Amsal 23 : 19

 

 

Ada kunci rahasia dalam kehidupan bersama Kristus. Firman Allah mewahyukan bukti-bukti penting yang membantu kita agar tidak gagal menuju sasaran. Cara kita memelihara hati itu sangat menentukan cara kita maju dalam perjalanan hidup. Peganglah Firman-Nya, dan Firman itu akan membina Anda. Seperti pada awalnya penerimaan Firman itu melahirkan kembali hati Anda, maka mentaati Firman dalam kehidupan Anda akan memelihara hati Anda. "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya diantara kamu" (Kolose 3 : 16); hendaklah diam, tinggal bersama kamu, bukannya singgah hanya semalam.

 

Dan dikatakan juga diam dengan segala kekayaannya; artinya dalam segala perintah-perintah, janji-janji, ancaman-ancaman; diam diantara kamu, artinya dengan segala pemahaman, ingatan, hati nurani, perasaan, dan semuanya itu akan memelihara hati Anda. Hati yang mendua dalam menerima Firman, itu merupakan penyebab dari kegagalan dalam hidup. Hati nurani tidak dapat dipengaruhi oleh pengabaian kebenaran. Simpalah Firman-Nya di dalam hati dan Firman itu akan memelihara agar hati maupun hidup Anda tetap teguh dalam iman. "Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah" (Maz 37 : 11); jika seandainya langkah-langkahnya goyah, Firman akan menemukan kembali hati yang sesat. "Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya.....lalu ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya" (Matius 26 : 75). Kita tidak akan kehilangan hati kita kecuali bila hati kita tidak lagi terkesan oleh Firman-Nya yang kuasa.

 

Berusahalah selalu memeriksa hati hari ini dan untuk selanjutnya, Jagalah peliharalah, simpanlah Firman Tuhan disana, dan hati Anda tidak akan mudah menipu diri Anda. ( Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Yeremia 17 : 9)

 

 

  

-------oo000O000oo-------

SS IV M5 2010

Oktober - Desember 2010

Pelajaran 5

Diterjemahkan Oleh : Joice dan Fritz Manurung

 

:: Abigail: Bukan Korban Lingkungan ::

 

“Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam
hati orang bebal” (Amsal 14:33)
 

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

         

Sabbath

23 Oktober

1 Samuel 25:3

Pendahuluan

Abigail

 

Semampu apakah anda mengatasi keadaan-keadaan yang sulit: teman kerja yang menjengkelkan, pasangan yang keras kepala, kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal, atau bahkan kehilangan seseorang yang kita kasihi?  Semuanya begitu mudah untuk diceritakan kepada orang lain tentang apa yang anda pikirkan – atau untuk tidak meneruskan pernikahan anda.  Bahkan mungkin akan begitu mudah untuk menyerah akan Allah manakala segala sesuatu tidak berjalan dengan baik.  Terkadang kita mendapati diri kita berada dalam keadaan-keadaan yang sulit dimana kita tidak memiliki kendali atasnya, atau tidak dapat meminta untuk menjadi bagian dari situasi tersebut.  Kita berdoa dan berharap bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik.  Tetapi sepertinya Allah tidak mendengar kita.  Kadang-kadang Ia sedang mempersiapkan kita untuk suatu hal, dan tergantung bagaimana kita mengatasi keadaan tersebut, Dia dapat menggunakan kita untuk menyelesaikan perkara-perkara yang besar.

 

Allah tahu isi hati kita, dan Ia selalu mendengar tangisan kita

 

Sepertinya Abigail yang tidak memiliki hak untuk memilih suaminya sendiri.  Dan malangnya, ia adalah seorang yang “ kasar dan jahat” (I Samuel 25:3), dan barangkali memperlakukannya dengan tidak baik.  Namun di tengah-tengah pergumulan yang ia tidak mengerti, ia menunjukkan sikap sabar.  Ia melakukan apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup – bahkan sampai kepada tahap untuk menyelamatkan suami dan seluruh isi rumahnya dari serangan Daud dan tentaranya dengan menyerahkan dirinya sendiri di garis depan.  Ia memohon agar kesalahan-kesalahan Nabal ditimpakan kepadanya.

Seberapa sering kita menanggung dosa-dosa orang lain?  Ia bisa saja membiarkan Nabal menuai akibat-akibat dari segala tindakannya, dan memohon saja kepada Daud untuk  mengampuni dirinya dan seisi rumahnya.  Namun sebaliknya yang ia lakukan adalah sesuatu yang lebih terhormat.  Dan Daud memberkatinya karena hal itu.  Ia tidak hanya menyelamatkan hidupnya,  hidup Nabal dan hidup isi rumah Nabal tetapi berpaling kepada Allah untuk berperkara dengan suaminya yang jahat.

“‘Hak-Kulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka’ ” (Ulangan 32:35, NKJV)

Marilah kita belajar dari cerita Abigail.  Pertama, Allah tahu isi hati kita, dan Ia selalu mendengar tangisan kita.  Ia tahu apa yang kita rasakan di hati kita yang paling dalam.  Kedua, Ia membiarkan kita untuk melalui ujian agar kehendak Tuhan jadi dalam kehidupan kita, atau kehidupan orang lain, dan Ia senantiasa bekerja demi kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya.  Ketiga, ketika orang-orang melakukan hal-hal yang jahat terhadap engkau, teruslah untuk berbuat baik, bersikap baik, dan berdiam dirilah dan biarkan Tuhan yang bertindak terhadap mereka.  Allah adalah adil.  Ia mungkin tidak mengatasi satu keadaan sesuai dengan apa yang kita inginkan atau harapkan tetapi Ia akan mengatasi keadaan tersebut.  Dan yang lebih penting lagi, Ia akan berperkara dengan orang lain dengan cara sebagaimana Allah berperkara dengannya.  Ia sedang berusaha untuk menyelamatkan setiap orang di antara kita.

 

Larie S. Gray, Silver Spring, Maryland, U.S.A.


Minggu

24 Oktober

Logos

Hikmat atau Kebodohan

I Samuel 25;

Yesaya 28:23; 53:12;

Daniel 9:15–19; Matius

15:10; Roma 8:34

 

Berbeda seperti Malam dan Siang Hari (I Samuel 25)

Tokoh minggu ini adalah Abigail.  Cerita mengenai dirinya terdapat di dalam I Samuel 25.  Saat membaca cerita ini, kita akan menemukan suatu hal yang sangat bertolak belakang antara Abigail dan Nabal.  Dia adalah seorang wanita yang “penuh hikmat,” namun Nabal adalah seorang yang “kasar dan melakukan apa yang jahat” (ayat 3, NKJV).  Pada kenyataannya, kita diceritakan bahwa namanya berarti “bodoh” atau “kebodohan.”  Marilah kita telaah perbedaan – perbedaan di antara dua individu berikut:

 

1.         Nabal senang mengeluarkan kata-kata kasar, dan ia seringkali mengatakan hal-hal yang tidak benar.  Abigail berhati-hati dalam berbicara – mengeluarkan kata-kata yang penuh hikmat.

Yesus berkata dalam Matius 15:11, “ ‘Bukan yang masuk ke mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan’ ” (NRSV).  Dan Amsal 23:7 berkata bahwa “seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia” (NKJV).  Itu dikarenakan apa yang ada di hati cepat atau lambat akan terpancar dalam kata-kata atau perbuatan.  Kebodohan hati Nabal terlihat baik dari perkataan dan perbuatannya.  Di samping itu, Abigail memiliki hati yang “berhikmat.”  Ia adalah orang yang dihormati, penuh kasih, dan penuh rasa terima kasih; dan ia diberkati oleh karena perkataan dan perbuatan.

 

Penyembahannya kepada Allah yang memampukannya untuk mengikuti tuntunan Roh Kudus

 

2.         Nabal menolak permohonan Daud yang meminta pertolongannya.  Ini adalah suatu keputusan yang semberono dan bodoh.  Abigail, di lain pihak, bersikap bijaksana dengan sesegera mungkin menghadap Daud dan memohon pengampunannya, membawakannya segala hal yang dibutuhkan Daud dan pasukannya.

Ketidakhati-hatian Nabal membawa hidup banyak orang dalam bahaya.  Seringkali, keputusan-keputusan yang kita ambil membawa akibat bagi banyak orang, bahkan apabila hal tersebut bukanlah maksud kita agar hal tersebut terjadi.  Pilihan Abigail menuntunnya untuk melakukan campur tangan demi kepentingan orang lain.  Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri melainkan kepentingan orang lain yang tidak pantas untuk dihukum.  Dalam Daniel 9:15-19, Daniel berdoa bagi bangsanya, yang telah berada dalam pembuangan di Babilonia selama bertahun-tahun.  Ia berdoa agar murka Allah berlalu dari mereka dan agar pada akhirnya mereka dilepaskan dan dibebaskan untuk kembali ke tanah airnya.  Yakobus 5:16 berkata bahwa “doa orang benar sangat besar kuasanya” (NRSV).  Doa syafaat adalah salah satu cara di mana kita dapat turut campur demi kepentingan seseorang; dan mungkin doa-doa kita akan menuntun mereka kepada keselamatan.

3.         Nabal memiliki hati yang mementingkan diri sendiri dan tidak tahu berterima kasih.  Abigail memiliki hati yang murah hati dan bersyukur.  “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yng memberi dengan sukacita” (II Korintus 9:7, NRSV).

4.         Nabal tidak memiliki rasa hormat terhadap Daud – yang merupakan pilihan Allah untuk menjadi penguasa Israel.  Ia begitu sombong dan kebodohannya menuntun dirinya kepada kematian.  Abigail mengetahui bahwa Daud adalah hamba Allah, yang telah dipilih Allah untuk menjadi penguasa Israel berikutnya.  Dia segera diselamatkan dari penderitaan-penderitaannya, dan menjadi ratu dari Raja Daud.  Baca Matius 23:12 dan Yehezkiel 21:26.

 

Hikmat Versus Kebodohan (I Samuel 25:3; Mazmur 110:10; Pengkhotbah 7:25)

Marilah kita perhatikan lebih dalam tentang arti kata hikmat dan bodoh (atau kebodohan) sebagaimana kata-kata tersebut berhubungan dengan cerita kita.  Persamaan dari kata-kata bodoh atau kebodohan adalah ketidakbijaksaan dan ketololan.  Sebagaimana yang telah kita pelajari sebelumnya, nama Nabal berarti bodoh.  Itu juga berarti fasik.  Perkataan dan tingkah lakunya yang bodoh merupakan bukti kefasikannya.  Baca I Samuel 25:3.  

Salomo mencoba untuk mengerti mengapa orang-orang melakukan apa yang mereka lakukan.  Ia menulis, “Aku tunjukkan perhatianku /untuk memahami, menyelidiki, dan mencari hikmat dan kesimpulan, serta /untuk mengetahui kefasikan itu kebodohan dan kebebalan itu kegilaan” (Pengkhotbah 7:25, NKJV).  Ia menyadari bahwa mereka yang betul-betul bijaksana adalah mereka yang takut dan menurut kepada Allah.  Baca Amsal 9:10.  Nabal adalah seorang yang bebal, seorang yang bodoh, karena ia tidak takut akan Allah.

Abigail disebut “wanita yang bijak” (I Samuel 25:3, NKJV).  Kata bijaksana dalam konteks cerita ini diambil dari bahasa Ibrani sekel yang berarti: “pandai,” “hati-hati,” “berpengetahuan,” “berpengertian,” “berhikmat,” “bijak.”  Abigail bijaksana karena ia takut akan Tuhan dan memahami kuasaNya.  Ia tahu bahwa Dia satu hari nanti akan meninggikan Daud dan memberikan hukuman kepada semua musuhnya.  Penyembahannya kepada Allah yang memampukannya untuk mengikuti tuntunan Roh Kudus dan pergi menemui Daud. Baca I Samuel 25:32.  Apabila kita sebagai orang Kristen hendak mengambil pilihan – pilihan yang bijaksana – pilihan untuk melakukan yang benar, untuk melakukan yang baik, dan untuk mengikuti Firman Tuhan – selanjutnya kita pun harus mengikuti teladan Abigail dan takut akan Allah.  Karena “takut akan Tuhan merupakan permulaan hikmat” (Mazmur 110:10, NKJV).

 

REAKSI

1.         Pikirkan beberapa pilihan yang telah anda buat?  Bagaimana pilihan-pilihan tersebut telah membantu atau mencelakakan orang lain?

2.         Pilihan apa yang menyebabkan semua pilihan-pilihan lain yang kita ambil?  Ulangan 30:19; Yosua 25:15.

3.         Bagaimana Matius 7:24-27 dan 19:16-22 membantu anda untuk mengerti pentingnya mengambil keputusan-keputusan yang benar?

 

Tresa Beard, Silver Spring, Maryland, U.S.A.

 


Senin

25 Oktober

Kesaksian

Seorang Wanita Pendamai

I Samuel 25:23–31

 

“ ‘Semua orang berada dalam keadaan duka, dan setiap orang berada dalam keadaan berkekurangan, dan setiap orang merasa tidak puas,’ itu yang dilaporkan kepada Daud, ‘dan ia menjadi kapten atas mereka: dan bersama-sama dengan dia ada sekitar empat ratus orang.”  Di sini Daud memiliki kerajaan kecilnya sendiri, dan di dalamnya berlaku peraturan dan disiplin.  Namun demikian dalam pengasingannya di atas gunung, ia tetap tidak merasa aman, karena secara terus-menerus ia mendapatkan bukti bahwa sang raja tidak menghapuskan niat untuk membunuhnya.”1

 

“Abigail …memberikan kepada Allah pujian dan penyembahan.”

 

 “Dengan pasukannya yang juga turut melarikan diri, ia memperoleh sebuah persiapan untuk melibatkan diri dalam pekerjaan dimana Saul, karena keinginannya untuk membunuh dan  hatinya yang buta, tidak dapat mengerjakan seluruh pekerjaannya.”2 

 “Daud dan pasukannya menjadi benteng perlindungan bagi gembala-gembala dan kawanan ternak Nabal; dan sekarang orang kaya ini diminta untuk menyediakan sesuatu dari kelimpahan karena kebebasan yang dia terima demi kepentingan mereka yang telah melakukan pekerjaan yang begitu berharga baginya.  Daud dan pasukannya bisa saja menyelamatkan diri mereka sendiri dengan tidak memperdulikan ternak dan para gembala, tetapi mereka tidak melakukan itu.  Mereka bertindak jujur.  Namun, kebaikan mereka hilang oleh karena Nabal.  Jawaban yang ia berikan kepada Daud menunjukkan tabiatnya: ‘Siapakah Daud? dan siapakah putera Isai?  Akan ada begitu banyak hamba saat ini yang melepaskan diri dari tuannya.  Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?’  

 “Tanpa bermaksud memegahkan diri atau sombong, tetapi penuh dengan kebijaksanaan dan kasih kepada Allah, Abigail menunjukkan kekuatan atas pengabdiannya terhadap rumah tangganya; dan ia menyatakan secara jelas kepada Daud bahwa tindakan yang tidak berkenan yang dilakukan oleh suaminya adalah tidak yang tidak bijaksana tanpa berpikir dahulu sebagai suatu penghinaan pribadi terhadap diri Daud, melainkan hanya sekedar luapan alamiah dari perasaan tidak bahagia dan memetingkan diri sendiri . . .

 “Abigail tidak memuji dirinya sendiri atas tindakannya mengubah Daud dari melakukan hal yang terburu-buru, melainkan memberikan kepada Allah pujian dan penyembahan.  Kemudian ia menawarkan perbekalannya yang melimpah sebagai persembahan damai bagi pengikut Daud.”3

 

REAKSI

Apa yang diajarkan cerita Abigail dan Nabal tentang peranan diplomasi dalam kehidupan seorang Kristen?  Bagaimana seseorang dapat meminta satu roh yang jujur, diplomasi yang penuh belas kasihan.

____________                       

1. Patriarchs and Prophets, hal. 658.

2. Ibid.

3. Ibid., hal. 666.

 

Ann Stewart, Silver Spring, Maryland, U.S.A.

Selasa

26 Oktober

Bukti

Daud dan Abigail: Latar Belakang Sejarah

I Samuel; II Samuel

 

“Menyusul penolakan Saul, Samuel dipanggil untuk memilih dan melatih seseorang menurut kehendak Allah (I Samuel 13:14), seseorang yang tidak akan menempatkan dirinya di atas hukum Allah melainkan yang akan mematuhi Allah. Pengajaran yang Daud dapatkan, seperti halnya Kristus, terus dilakukan meski ada kecemburuan dan kebencian.  Walaupun terkadang Daud jatuh dalam pelanggaran hukum Allah yang ia junjung tinggi dan yakini, ia selalu merendahkan hatinya bahwa hukum itulah yang tertinggi.”1

 

Manakala Samuel wafat, Daud “berduka sama dalam dan kasihnya seperti seorang anak yang setia kepada bapa yang ia hormati . . .pada saat perhatian Saul terpusat pada duka atas kematian Samuel, Daud mengambil kesempatan ini untuk mencari satu tempat yang jauh lebih aman; sehingga ia pergi ke padang gurun di Paran.”2

Nabal tinggal di Maon dengan isterinya Abigail.  Domba-dombanya terletak di Karmel.  “Selama mereka tinggal di padang belantara Ziph dan Maon, sebelum pindah ke En-gedi, Daud dan pasukannya selanjutnya menjadi lebih dekat dengan gembala-gembala Nabal, dan telah meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan baik.  Tinggal dekat dengan padang gurun, Nabal secara terus-menerus berhadapan dengan kawanan perampok.”3

Daud mengutus hamba-hambanya untuk meminta makanan dari hamba-hamba Nabal.  “Ia telah menjaga ternak-ternak Nabal tanpa meminta bayaran kepada si empunya ternak.   Pemilik domba biasanya akan dengan senang hati membalas jasa mereka yang telah menolong mereka dari kehilangan domba-dombanya.  Permintaan Daud untuk meminta makanan adalah permintaan yang pantas dan sesuai dengan kebiasaan yang timbul pada waktu itu.”4

Daud tidak pernah mengharapkan balasan seperti yang para hambanya terima.  Bermaksud untuk balas dendam, Daud mempersenjatai para hambanya dan bergerak menuju rumah Nabal dengan maksud memusnahkan dia dan seluruh isi rumahnya!  Ketika Abigail mendengar apa yang telah terjadi, ia menyiapkan makanan bagi Daud dan seluruh hambanya, dan segera menemuinya.  Ia sesegera mungkin dan dengan cara diplomatis memohon pengampunan atas hidup suaminya yang bodoh dan seisi rumah mereka.

Daud menyambut nasihat Abigail yang menghentikannya untuk menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah (I Samuel 25:32,33)

____________

1. The SDA Bible Commentary, vol. 2, hal. 449.

2. Patriarchs and Prophets, hal. 664.

3. Ibid., hal. 573, 574.

4. Ibid., hal. 574.

 

Patience Barnes, Mt. Pleasant, Pennsylvania, U.S.A.


Rabu

27 Oktober

 

Maz. 52:8;

Yer. 7:23;

Matt. 16:24–26;

1 Tess. 5:17, 18

Bagaimana

Menghadapi Kesulitan

 

Keadaan-keadaan yang sulit dapat menjadi sesuatu yang melemahkan dan menekan, bahkan bagi seorang Kristen yang teguh sekalipun.  Hal-hal tersebut dapat menyebabkan anda melakukan salah satu dari dua hal berikut: (1) berpegang pada Allah sementara anda menderita dan berdoa meminta jalan keluar bagi permasalahan anda, atau (2) tenggelam semakin dalam dan semakin dalam di dalam keputusasaan.

Keadaan yang dialami Yusuf kelihatan tidak memiliki pengharapan.  Kita hanya bisa membayangkan bagaimana perasaannya setelah saudara-saudaranya menjual dia dalam perbudakan.  Tentunya ia merasa sedih dan mungkin sakit hati, tidak tahu apa yang ada di hadapannya atau apakah ia akan memiliki kesempatan bertemu kembali dengan ayahnya.  Namun ia bertekad bahwa ia akan percaya kepada Allah, dan patuh kepada semua yang ayahnya pernah ajarkan.

 

Ia adalah seorang wanita yang dapat digunakan Allah

 

Selanjutnya ada Esther, Daniel dan ketiga sahabatnya, dan Daniel di goa singa.  Setiap orang bertekad untuk patuh kepada Allahnya, bahkan ketika harus menghadapi kematian.  Iman mereka telah menolong mereka untuk bangkit di atas keadaaan-keadaan mereka yang menyedihkan; dan Allah menghargai iman seperti itu.

Abigail pun adalah seorang wanita beriman.  Ia tidak takut untuk bertindak untuk menyelamatkan hidup orang-orang yang tidak berdosa, walaupun ia nantinya mungkin harus menghadapi murka suaminya.  Sebagai akibat dari tindakannya yang berani dan cepat itu, ia mampu menahan Daud untuk melakukan sesuatu yang nantinya akan dia sesali.  Ia tidak membiarkan kondisinya mempengaruhi imannya atau mengubah siapa dirinya.  Ia adalah seorang wanita yang dapat digunakan Allah; dan ia dipimpin oleh Roh Allah untuk berbicara kepada Daud.

Yesus adalah teladan kita yang sempurna. Dia datang ke bumi untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita.  Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan bagi pelanggaran-pelanggaran kita (Yesaya 53).  Namun demikian, ia bangkit atas segala keadaannya untuk menyelesaikan apa yang menjadi tujuannya datang ke dunia ini.  Apa pun keadaan anda, ingatlah Yesus dan laki-laki dan perempuan beriman lainnya dalam Alkitab.  Di sini ada beberapa hal yang akan membantu anda bangkit atas segala keadaan anda:

Percayalah kepada Allah (Mazmur 52:8).  Ia tahu situasi anda; Ia memiliki jalan keluar.

Berdoalah sebagaimana yang Yakub lakukan (I Tesalonika 5:17,18).  Jangalan lepaskan sampai Allah memberkati anda dan menunjukkan kepada anda jalan yang harus anda ambil.

Menurut (Yeremia 7:23).  Bertekad apa pun yang terjadi, anda akan menurut kepadaNya dan firmanNya.

Pergilah ke manapun Ia memimpin (Matius 16:24-26).  Ia tidak akan pernah meninggalkanmu atau menolakmu.

 

REAKSI

Temukanlah ayat-ayat lain yang berhubungan dengan setiap butir di atas.  Hafalkan satu yang paling mengena bagi anda.

 

Sarah Stewart, Silver Spring, Maryland, U.S.A.


Kamis

28 Oktober

1 Samuel 25;

Mazmur. 107:19

Pendapat

Wanita Penuh Hikmat

 

Abigail mewakili semua orang yang tidak membiarkan apa yang terjadi pada mereka membawa mereka lebih menderita.  Ia tahu bahwa kebebalan suaminya dapat menyebabkan tidak hanya kematiannya, tetapi juga kematian dari orang-orang yang tidak berdosa.  Banyak orang yang membiarkan kebodohan orang lain mempengaruhi mereka dan mereka berbalik mengambil pilihan-pilihan yang salah.  Akan tetapi, dalam menanggapi tindakan Nabal yang bodoh, Abigail mengambil keputusan yang bijaksana untuk pergi menghadap Daud dan meminta pengampunan.

Abigail adalah seorang yang berhikmat.  Kita dapat melihat kebijaksanaannya. Kita dapat melihat kebijaksanaanya di sepanjang I Samuel 25.  Pertama, ia mendengar apa yang harus diceritakan hambanya kepadanya mengenai Nabal dan hamba-hamba Daud.  Ia menanggapi dengan bertindak sesegera mungkin.  Ia tahu bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu.  Harus ada sesuatu yang dilakukan atau orang-orang yang tidak berdosa akan mati.

 

Ia tahu bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu

 

Dalam melakukan pemilihan makanan yang akan diberikan kepada Daud, ia melakukannya dengan terorganisir dan hati-hati.  Dalam ia melakukan semua dengan memperhitungkan waktunya.  Ia memberikan perintah kepada hamba-hambanya mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.  Dan mereka mengikuti perintahnya dengan hati-hati.  Sebagai akibatnya, ia dapat menemui Daud sebelum ia mendapati Nabal.  Daud dapat melihat betapa pintar dan bijaksananya wanita ini.  Ia mendengarkannya dan menyesali tindakannya.

Ketika Abigail kembali ke rumah setelah bertemu Daud, ia memutuskan untuk menunggu memberitahukan apa yang telah terjadi kepada Nabal sampai besok pagi.  Hal itu adalah satu tindakan yang cerdik.  Nabal telah melakukan pesta pora dan mabuk-mabukan, dan ia tahu suaminya sedang dalam keadaan tidak sadar.  Ia mungkin tidak menyadari betapa serius tindakannya itu jika ia memberitahukan apa yang telah ia lakukan padanya pada malam itu.  Ia mungkin saja menertawakannya karena dalam keadaan mabuk atau menanggapinya dengan kemarahan.  Lantas ia menunggu sampai besok pagi, ketika ia sedang dalam keadaan sadar.  Ia ingin memastikan bahwa Nabal sepenuhnya sadar akan akibar dari kebodohannya – ia dapat saja kehilangan segalanya termasuk nyawanya.

Abigail juga memahami bahwa Allah akan memberi balasan kepada semua musuh Daud, termasuk Nabal, dan ia begitu bijaksana untuk meminta Daud agar mengingatnya (I Samuel 25:31).  Setelah kematian Nabal, Daud benar-benar mengingat Abigail, dan mengambilnya sebagai isterinya.

Kita dapat melihat dalam cerita Abigail bagaiman Allah memperhatikan umat-umatnya.  Pada akhirnya Allah melakukan pembalasan untuk Daud atas tingkah laku dan tindakan Nabal yang tidak tahu berterima kasih.  Ia juga membebaskan Abigail dari ikatan seorang suami yang memiliki roh kekejaman dan kebodohan.

 

Kayla D. Beard, Silver Spring, Maryland, U.S.A.


Jum’at

29 Oktober

Eksplorasi

Menjadi Seorang Kristen yang menjadi Pengantara

1 Samuel 25

 

SIMPULKAN

Abigail menghadapi satu keadaan yang hampir saja mustahil.  Bagaimana mungkin ia dapat begitu tenang menghadapi kemarahan dua orang (Daud dan Nabal) yang nasib dirinya berada dalam genggaman mereka?  Daripada menangis dan mengasihani dirinya sendiri, ia memilih untuk menggunakan hikmat untuk mencegah menyebarnya perseteruan yang fatal. Kepeduliannya bagi mereka yang hidup disekelilingnya dan rasa hormat kepada “yang diurapi Allah” menuntun dirinya untuk ikut campur dan menempatkan dirinya di antara Nabal, yang membuat satu keputusan yang bodoh, Daud, yang bereaksi sebelum memikirkan akibat-akibat yang mungkin timbul dari tindakannya.

 

PERTIMBANGKAN

 

●  Hafalkanlah lagu, “Father, Lead Me Day By Day,” (no. 482 in the Seventh-day Adventist Hymnal).  Kapan pun anda merasa putus asa sepanjang minggu yang akan datang, ingatlah bagaimana kata-kata dalam lagu tersebut mempengaruhi anda.

●  Buatlah drama tentang cerita Abigail, Daud dan Nabal dengan menggunakan setting keadaan saat ini.

●   Mulailah membuat suatu catatan tentang doa syafaat.  Catatlah orang-orang yang anda doakan dan jawaban doanya.  Bagaimana mendoakan orang lain menolong anda secara spiritual?  Mengapa kita perlu menjadi pengantara bagi orang lain manakala mereka memiliki kebebasan untuk mengambil keputusannya sendiri?

●    Jadilah pengantara antara dua orang teman yang sedang kesal satu sama lain.  Dapatkah anda mengidentifikasi masalah utamanya?  Bagaimana mereka dapat mencapai kesepakatan?  Mengapa penting untuk tidak berpihak?

●    Buatlah sebuah poster dengan nama Abigail sebagai fokusnya.  Hiasilah itu dengan ornamen yang mewakili karakter Abigail sebagaimana yang ditunjukkan dalam kehidupannya.  Buatlah poster kedua yang mengambarkan nama anda dan karakter yang anda tunjukkan selama ini.

●   Pikirkan reaksi Daud, Abigail, dan Nabal.  Lakukan reaksi ini kepada situasi dalam kehidupan anda.  Betapa mudahnya orang dapat menjadi salam paham?  Mengapa kita bereaksi begitu cepat dan negative manakala kita merasa orang sedang memperlakukan kita dengan tidak adil?  Sebagai orang Kristen, respon apa yang seharusnya kita tunjukkan kepada mereka yang menzalimi kita?

 

HUBUNGKAN

Patriarchs and Prophets, hal. 664–668; The SDA Bible Commentary, vol. 2, hal. 1022; Joyce Landorf, He Began With Eve, “Abigail” (Word, 1983).

 

Deena Bartel-Wagner, Spencerport, New York, U.S.A.

 


Renungan :

 

MASA PENANTIAN

 

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Matius 7:7

 

Adakah doa-doa yang Anda ingin agar Allah jawab? Mungkin kerinduan Anda agar doa yang satu ini dijawab telah berlangsung selama berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun. Godaan datang dan Anda merasa ingin menyerah saja. Anda berpikir, Dimanakah Engkau, Tuhan? Dan bagaimana aku dapat mengatasi kebutuhan ini?

 

Allah bekerja pada satu garis waktu yang dirancang dengan sempurna. Ia tahu apa yang Anda butuhkan dan kapan harus memenuhinya. Tetapi Ia ingin Anda belajar mempercayai-Nya untuk berkat-berkat yang telah Ia rencanakan. "Bergembiralah karena Tuhan, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diingikan hatimu," kata pemazmur, "Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak" (Mazmur 37:4-5). Mencari Allah berarti berbembira di dalam kesetiaan-Nya, memuji-Nya atas kebaikan-Nya, dan mengasihi-Nya karena Ia peduli pada Anda.

 

Sesekali, Allah menuntut masa penantian sebelum Ia memberikan berkat-Nya. Maka keyakinan pun menjadi aset Anda yang utama jika Anda tidak mempercayai Allah untuk kebutuhan Anda, Anda akan menjerit-jerit karena takut dan panik. Ketika terjadi badai di Laut Galilea, murid-murid mengira mereka akan mati. Tetapi Yesus memerintahkan angin dan ombak untuk tenang. ia mengajar orang-orang itu untuk mempercayai Dia dalam situasi yang paling buruk sekalipun, dan Ia sedang mengajar Anda untuk mengawasi dan menunggu pertolongan-Nya. Saat Anda menanti di dalam hadirat-Nya hari ini, terimalah damai sejahtera karena Ia beserta Anda.  

 

  

-------oo000O000oo-------